Catatan Bloger
Lucu Mana Kalla dan Ucup Kelik?
Mbah Darmo
Penulis dan Direktur Pusat Studi Humor (Pusham) Yogyakarta
Lucu mana antara Yusup Kalla dan Ucup Kelik ? Demikian pertanyaan seorang korban gempa Jogja terhadap tetangganya.
“ Ya, jelas lucu Ucup Kelik.”
“ Kok bisa ?”
“ Ucup Kelik kan pelawak.”Melihat jawaban temanya itu, Iapun tertawa sabil menyangkal; ” Salah.Menurutku tetap lucu Yusup Kalla.”“ Kok Bisa ?”
“ Kelik itu kalau membuat lelucon kan harus akting menirukan Yusup kalla. Nah, Kalau Yusup Kalla, begitu saja udah lucu.Lihatlah gaya bicaranya, Apalagi kalau kasih statemen pasti tambah lucu. Buktinya, beliau bilang mau kasih bantuan 30 juta per KK pada kita, tiba-triba melorot jadi 4 juta. Itukan lucu banget tho namannya ”Demikianlah dialog singkat dua orang korban Gempa di Bantul Satu tahun lalu. Ketika kepastian bantuan bagi mereka belum jelas dan terkatung katung.(Tapi sukurlah sekarang Bantul telah bangkit kembali dengan uluran tangan banyak fihak).
***
Dialog satire humor tersebut, bisa jadi nilai humornya lebih tinggi dari sajian lawak yang muncul di tv-tv kita saat ini. Yang kian hari kian bertambah secara kuantitas, tapi tidak bertambah kualitasnya. Akan tetapi apa hendak dikata, televisi kini seolah telah menjadi realitas baru dalam kehidupan. Bahkan menyangkut selerapun sangat ditentukannya. Termasuk selera humor tentunya.
Menurut Victor E. Frankl seorang tokoh Logoterapi, Humor adalah senjata jiwa yang lain dalam mempertahankan diri. Sudah dimaklumi bahwa humor, lebih dari sesuatu yang lain dalam kehidupan manusia, dapat menghasilkan sikap menjauhkan diri dari rasa frustasi dan memiliki kemampuan untuk bangkit mengatasi segala situasi, sekalipun hanya beberapa detik. Upaya membangun sense humor dan melihat segala hal dalam preskpektif humor adalah bagian dari menguasai seni kehidupan. Frankl mengutarakan pendapatnya ini tidak lepas dari pengalamanya ketika menjalani kehidupan di kamp konsentrasi Nazi, bahwa untuk mengurangi penderitaan atas siksaan yang dirasakan, mereka tetap mengeluarkan segala teror yang menderanya dalam bentuk humor, walau hanya sesaat.
Mengapa humor yang dilontarkan orang Bantul tersebut menjadi lebih mempunyai nilai dari pada aksi pelawak kita ? Karena para korban gempa tersebut telah berhasil mengubah penderitaan menjadi semangat kebangkitan melalui leluconya. Sementara para pelawak kita, meskipun kadang juga melontarkan humor humor kritik, akan tetapi sejauh ini dirasakan masih pada kesadaran praksis memenuhi tututan job untuk hiburan semata, alias belum ada semangat pemberdayaannya dalam menyampaikan guyonannya
Padahal humor yang berkembang dari realita, biasanya sarat akan local wisdom. Kearifan lokal yang bisa jadi muncul dari kita ketertekanan.Sementara humor virtual, hanya mengandalkan khayalan semata, dan kerap kali mengada-ada. Tapi apa hendak dikata, sejak : Aneka Ria Srimulat,Ba’so, Padyangan Projeck, Ngelaba, Ektravaganza, Negeri BBM, SBY (santai bareng Yuuk), Ngelenong Yuk,sampai Empat Mata. Semua menempati rating tinggi di zamanya. Suguhan tawa selalu disambut hesteria oleh pemirsanya.
Tayangan negeri BBM-Indosiar, yang sempat ngetop beberapa waktu lalu nampaknya patut kita cermati sebagai jenis humor politik yang cukup menggelitik.Dengan menampilkan tokoh imajiner presiden BBM Taufik Savalas (almarhum), penonton langsung dapat menebak bahwa adegan -adegan yang buat adalah unutk memparodikan gaya maupun kebijakan pengambil keputusan saat ini. Meski Taufik hanya menirukan gerakan tangan dan kedipan mata pak SBY saja.
Kehadiran Negeri BBM lebih seru, ketika Kelik Pelipur lara diangkat menjadi Wapres Ucup Kelik. Guyonan menjadi lebih hidup. Dengan gaya plesetan (yang sempat ngetrend di Yogya awal 90 an) Kelik dapat mengolah Idiom-idiom politik, menjadi lawakan yang selalu membuat orang di sekelilingnya terpingkal pingkal. Padahal orang disekelilingaya tersebut biasanya tokoh politik beneran sekelas Wilmar Witolear, Amien Rais, Hidayat Nur Wahid dll. Dan yang tak kalah seru forum itu selalu menghandirkan mahasiswa, yang biasanya di forum lain sangat serius dalam membahas persoalan bangsa. Akan tetapi ketika acara ini ditayangkan, terlihat sekali tawa mahasiswa tersebut seolah memang bagian dari lawakan-lawakan yang konon dianggap kritis tersebut.
Pertanyaanya: Benarkah humor kritik politik dalam acara tersebut juga mempunyai dampak kritis dalam pemberdayan politik yang sesungguhnya ? Ini sesungguhnya pertanyaan mendasar yang harus ditelusuri. Atau jangan-jangan acara ini hanyalah guyonan murni demi kepentingan bisnis hiburan semata, yang idenya dari peristiwa politik yang up to date saja. Dengan para pelakon, disamping para pelawak (Topik dan Kelik) juga Para pakar maupun para mahasiswa yang hadir di forum itu. Alias cuma seperti ndagel berjamaah, dan nalar kritispun menjadi tak merambah. Yah boleh dikatakan: Kritik yang sekedar humor.
Ketika era 90 akan berakhir, dan rezim Orde Baru nyaris tumbang. Publik sangat terhibur dengan monolog Butet Kartarajasa yang menirukan gaya Suharto sebagai Humor Kritik. Mengapa ? karena mungkin timingnya tepat.Kran kritik terhadap kekuasaan hampir semuanya tertutup. Dan memang apa yang dilontarkan Butet waktu itu, subtansinya melakukan kiritik terhadap keserakahan Orba, hanya saja dengan bahasa dan gaya yang kadang sarat humor.
Masarakat yang hilang kesabarannya menghadapai krisis multi dimensional dan bosan terhadap perilaku rezim Suharto saat itu, seolah menemukan oase untuk menertawakan keadaan.
Sayang, komedi gaya (humor-humor yang mengritik segala fenomena-termasuk politik) dengan tampilan monolog teater ini masih sangat elitis dan mungkin hanya dinikmati beberapa gelinitir orang saja.Terutama kalangan terpelajar.sangat elitis dan mungkin hanya dinikmati beberapa gelinitir orang saja.Terutama kalangan terpelajar.
Sekarang keadaanya jadi berubah. Kran reformasi telah mengantarkan pada keadaan dimana orang bebas berbicara maupun mengritik lewat media manapun dan cara apapun. Sehingga ketika Butet kembali menirukan Suharto Di Baru Bisa Mimpinya nya Metro TV, juga parodi para presiden yang lain. Terasa sekali tidak “ngeh” karena feeling kita sebagai pemirsa akan segera tahu kalau itu hanya guyonan semata,tapi seolah dibungkus dengan bahasa kritik. Akan tetapi subtansi mengritiknya sesungguhnya garing sekali atau sudah basi.
Komedi situasi kita juga begitu. Dengan bantuan tawa palsu (rekaman), kemurnian humor jadi kabur.Dengan komedi situasi yang dibuat beberapa stasitun tivi kita, penonton seolah dipaksa tertawa (mengikuti rekanan tawa yang ada, atau tawa para volunteer yang ada studio tivi itu ), bahkan sampai dibuat muntah.Meski itu tidak keluar dari nuraninya.
Lain halnya dengan Tukul Arwana. Saat ini Ia merupakan fenomena. Indikatornya sekali lagi adalah rating. Dengan modal pisiknya Tukul bisa membuat penonton terbahak bahak.Juru bicara Presidenpun pernah hadir sebagai bintang tamunya. Dengan “kenaifanya”(terutama dalam berbahasa Inggris) Tukul mampu mengolah suasana talk show hingga melahirkan sebauh situsai yang mengundang tawa. Tetapi sekai lagi dimana sich, letak guyon kritisnya?Apakah sekali lagi karena hanya rating ?
Ada Intermeso begini : Lantaran bakatnya sebagai entertainer, hingga membuat Tukul Arwana sangat dikenal masarakat dari seluruh lapisan.Dan yang jelas dia jadi kaya raya.Bahkan kabarnya ketika anggota DPR minta dianggarkan dana untuk pembelian Laptop, itu adalah karena terpengaruh ucapan khas Mas Tukul untuk : “ Kembali ke Laptop !”
Jika memang kabar burung itu benar begitu, maka peluang bisnis selanjut yang cukup propektif adalah usaha salon yang bisa face off ( ganti wajah ). Alasanya sederhana saja, karena para anggota DPR tersebut meski sudah di belikan Laptop, pasti tetap ngiri dengan ketenaran Mas Tukul dan DPR itu pasti pingin wajahnya dibuat mirip Mas Tukul. (Biar bisa nyium banyak artis cantik kalee ?)
Sudahlah itu hanya intermeso saja.Bagi masarakat Semarang, saatnya sekarang tidak hanya bangga dengan Mas Tukul. Tetapi saatnya untuk menyiapkan kader-kader penghibur (lawak) yang jempolan, yang tidak saja membuat marakat terkekeh, tetapi juga bisa mengkritik agar bangsa justru kokoh. Dan Bisakah itu terlahir dari kecamatan Banyumanik tercinta ?
Jujur saja, kita memang kekurangan humor kritik yang mempunyai visi ke depan.Bahkan kita kekeurangan komedian yang intelek. Atau memang benar apa yang pernah di tulis oleh Romo Mangunwijaya, dalam bukunya Gerundelan Orang Republik, bahwa taraf humor bangsa r pengajaran berpikir, mengatakan bahwa untuk dapat berpikir lateral, seseorang memerlukan sepenggal humor. Berpikir lateral adalah berpikir menyimpang, berpikir melawan arus, atau berpikir bukan pada tempatnya. Mengapa demikian ?Humor sebenarnya sarat dengan proses berfikir.
Bukan sembarang berfikir. Berfikir dalam humor bersifat khas, yang kadang justru membalikkan logika.Karena itu merupakan kekeliruan besar kalau orang mengganggap bahwa humor itu hanya main main. Humor bukan masalah sederhana karena untuk menghasilkan humor orang perlu berfikir serius. Dengan kata lain, terwujudnya sebuah humor adalah hasil usaha serius karena humor diciptakan melaui proses berpikir dengan modal kreativitas.kita masih kategori Humor Gorilla. Atau guyonan yang mengandalkan logika pisik semata. Menurut
Edward de Bono, sorang pakar pengajaran berpikir, mengatakan bahwa untuk dapat berpikir lateral, seseorang memerlukan sepenggal humor. Berpikir lateral adalah berpikir menyimpang, berpikir melawan arus, atau berpikir bukan pada tempatnya. Mengapa demikian ?Humor sebenarnya sarat dengan proses berfikir. Bukan sembarang berfikir. Berfikir dalam humor bersifat khas, yang kadang justru membalikkan logika.Karena itu merupakan kekeliruan besar kalau orang mengganggap bahwa humor itu hanya main main. Humor bukan masalah sederhana karena untuk menghasilkan humor orang perlu berfikir serius. Dengan kata lain, terwujudnya sebuah humor adalah hasil usaha serius karena humor diciptakan melaui proses berpikir dengan modal kreativitas.
Lantas, bagaimana agar guyonan, humor, komedi situasi maupun lawakan kita mempunyai kualitas yang bagus dan senantiasa meningkat. Menurut hemat penulis-humor harus tetap dipososikan sebagai sebuah produk kesenian.dan dia bukan hiburan semata. Sebagai karya seni ia dituntut orisinalitas, fresh, dan penuh kreatifitas.
Sebagai produk seni ia harus juga menyediakan ruang kritik artistik maupun terhadap volue, selayaknya karya seni yang lain. Hingga dikemudian hari tidak kita temukan lagi dialog pelawak semacam “… pala lu peang !!”..”… muka lu kayak sadel sepeda !!” dan sebagainya.
Pelaku humor harus open mind terhadap segala bentuk kritik, kuratorasi yang ditujukan pada padanya. Ruang kritik ini juga harus memadai. Tidak sekedar sambil lalu ataupun tempelan. Bahkan kalau mungkin menjadi disiplin ilmu tersendiri.
***
Begitulah. Kemudian orang Bantul Korban gempa itu berusaha menghibur tetangganya. “ Sudahlah kamu tidak usah mengharap bantuan dari Yusup kalla, toch dia juga manusia.”
“ Jadi kayak …Rocker dong. . Maksudmu itu apa ?”
“ Bencana kita inikan dari Tuhan, maka kita harus selalu mengharap bantuan dari Tuhan.”
“ Memangnya ada bencana yang bukan dari Tuhan ?”
“ Ada. Lha Lumpur panas di Siring Porong Sidoarjo, itukan juga bencana yang diakibatkan oleh ulah tangan manunsianya Lapindo Bratnas.
“ Berarti dia harus dapat bantuan dari manusianya ?”
“ Betul ! Padahal sejauh ini saudara saudara kita itu belum juga mendapat bantuan yang memadai dari manuisia yang bikin bocor itu”
Sang tetangga hanya diam manggut-mangut, nyengir sambil menggaruk kepala, otaknya tak habis pikir mempertanyakan logika sang kawan yang sama sama menjadi korban ketidak seriusan penanganan bencana itu.

Like this:
February 25, 2008 - Posted by rasredaksi | Uncategorized | Aneka Lapindo BratnasRia Srimulat, Ba'so, Bantul, BBM Taufik Savalas (almarhum), Ektravaganza, Gerundelan Orang Republik, Humor Kritik, koraban gempa, Logoterapi, Mbah Dharmo, Negeri BBM, Ngelaba, Ngelenong Yuk, Padyangan Projeck, Pusat study humor Yogyakarta, Pusham, Romo Mangunwijaya, sampai Empat Mata, SBY (santai bareng Yuuk), Siring Porong Sidoarjo, Ucup Kelik, Victor E. Frankl, Yusuf kalla
No comments yet.
Leave a Reply Cancel reply
About Blogger
fotografi, sempat bekerja untuk majalah berita mingguan nasional dan
kontributor sebuah mingguan china berbahasa inggris. selain bergiat
menulis pada komunitas media profetik, kini menggeluti marketing
communication dan mengelola media komunitas bersama jurnalis lainnya,
disamping mengajar pada beberapa perguruan tinggi swasta di semarang -
yogjakarta
-
Recent
-
Links
-
Archives
- March 2008 (6)
- February 2008 (16)
- November 2007 (1)
-
Categories
-
RSS
Entries RSS
Comments RSS
