Catatan Blogger
Editorial: News Impact
Oleh: gus-rasredaksi
AWAL sekali, sebelum sebelum era kejayaan zaman Yunani maupun Romawi. Seorang pembawa adalah sang rasul. Dalam bahasa keseharian, kita biasa menyebutnya dengan istilah nabi. Meskipun ada perbedaan besar dari antara arti nabi dengan rasul.Rasul sendiri berasal dari leksikon arab, berarti utusan.
Kemudian pesan suci tersebut ada yang disampaikan secara lisan, ada pula yang disampaikan secara tertulis kepada ummatnya. Pesan tersebut yang mendasari kenapa agama (millah) menjadi sarat dengan nilai atau pesan serta aturan moral.
Bayangkan cemo’ohan, dan perlawanan sampai ancaman pembunuhan yang diterimanya dari raja setempat yang merasa kekuasaanya terganggu oleh pesannya. Karena begitu mulianya pesan yang dibawa seorang rasul, maka keberadaan rasul sangat dimuliakan. Pada zaman menjelang renaisance, seorang pembawa pesan disebut dengan messenger oleh orang eropa.
Biasanya pesan tersebut merupakan hasil olah pikir para filsuf. Cara penyampaian tetap ada dua, belum pesat berkembang. Lewat lisan dan tertulis. Pasca renaisance, pembawa pesan menjadi sebuah profesi.
Di Amerika Serikat, Pada jaman koboi masih menjadi tuan tanah. Sampai memiliki legenda tentang pembawa pesan. Billy the Kids. Bayangkan perjuangan sang koboi -yang menamai kelompoknya dengan Billy the Kids -tersebut harus berjuang agar setiap pesan surat penting atau barang yang dititipkan para kliennya sampai dengan selamat. Mulai harus melawan perampok jalanan sampai godaan untuk mengorupsi pesannya.
Abad berikutnya, bentuk pesan tidak berubah. Hanya medianya yang berkembang .Lisan melalui media radio setelah Graham Bell menemukan alat komunikasi Radio. Dan tulisan manjadi koran sejak ditemukan mesin cetak oleh Guttern Berg.
Kemudian muncul media televisi yang menggabungkan antara suara, gambar hidup dan tulisan bergerak. Dan selanjutnya muncul multimedia yang disampaikan melalui media internet: Mulai dari web, blog, email, dan seterusnya.Dari semua gambaran tadi.
Ada pesan yang ingin tersampaikan kepada kita semua. Pesan dalam sebuah pertanyaan retorik. Benda apakah yang merubah dunia dan alam pikir kita? Apakah rangkaian pesan yang termuat dalam koran, terdengar dari radio, terlihat di televisi, terbaca di website, blog, email bahkan SMS? Ataukah beritalah yang sebenarnya tergantung dari alam pikiran kita, baik kita sebagai sumber berita, penyampai berita maupun penerima pesan berita?
*****
Pembaca, beberapa hari lalu. Redaksi dikagetkan lagi oleh seorang tamu. Berpakaian sangat rapi. Batik yang dipadu dengan celana gelap yang serasi. Seorang pak tua. Dia, Pak Patah. Tokoh kita di edisi#2 penerbitan Semarang Review edisi Cetak.
Tokoh yang sendirian menggali, menebas, dan meratakan bukit hingga menjadi jalan yang menghubungkan dua kampung yang terisolasi bukit dan sungai selama puluhan tahun. 2o tahun dia bekerja sendiri. Selepas dia bekerja sebagai pengangkut sampah di beberapa perumahan di sekita Banyumanik Semarang.
Tanpa teman dia bekerja. 6-7 jam sehari dia bekerja. 7 hari dalam seminggu. 365 hari dalam setahun. Tanpa henti sampai 20 tahun. Hasilnya sebuah jalan lempang yang rata – meski tanpa diaspal- dan nyaman dilewati mobil sekalipun. Jalan berkelok namun landai sepanjang belasan kilometer. Semua orang, termasuk tetangganya yang dulu mengoloknya sebagi orang gila kini ikut menikmati jalan tersebut.
******
Kini dia terlihat sangat ganteng. Dan terkesan seperti seperti orang kantoran penampilannya. Kenapa dia merubah penampilan? “Ah meniko batik pemberian orang kecamatan. Rambut sayapun yang mbayari cukur piyantun Dinas PU, juga banyak pemberian baju dan setelan celana dari mantu saya. Orang yang selama ini kurang merhatikan kulo” jelasnya dengan bahasa jawa campur.
Namun, semuanya itu bukan berarti apa2 baginya. Yang membuatnya sedih adalah ketidak hadiran kami dalam acara sukuran, Karena dia menerima ‘SK (surat Keputusan) pengangkatan sebagai tukang sapu resmi jalan raya depan kodam. Dan tukang bersih-bersih gedung serba guna Kodam Diponegoro bila ada acara kawinan atau pertemuan.
Ya, dia telah mendapatkan apa yang memang seharusnya diterimanya sejak dulu. Itu salah satu contoh dampak sebuah pemberitaan. News Impact. Bukan saja mengubah cara berpakaiannya. Tapi juga nasibnya. Dan cara orang memandang eksistensinya. Kami berbahagia. Karena tesis kami bahwa konsep ‘a good news is also good news’ ternyata telah mendapatkan pembuktiannya, meski dalam skala yang sangat kecil dan personal sekali.

No comments yet.
Leave a Reply
-
Recent
-
Links
-
Archives
- March 2008 (6)
- February 2008 (16)
- November 2007 (1)
-
Categories
-
RSS
Entries RSS
Comments RSS
