indonesia observer

Just another WordPress.com weblog

Pendidikan

Sekolah Alam Ar Ridlo Semarang:
Tak Harus Berseragam, Tapi mendidik Anak jadi Jempolan
Laporan: Taufik Citizen Journalist

Ide awalnya karena kontrakan habis dan tidak ada biaya untuk membangun gedung-gedung sekolah. Hingga akhirnya mengetahui dari siaran televisi ada sekolah dengan konsep alam terbuka sebagai tempat belajarnya,begitu Waka SD Sekolah Alam Ar-Ridho, Desy Ervina SKM mulai bertutur.

Embrio sekolah alam Ar-Ridho adalah TK Islam Terpadu yang berlokasi di Perum Bukit Kencana Jaya Blok C pada 1995-2000. Pada awal hingga pertengahan 2000 itulah terjadi perubahan yang signifikan pada konsep dan praktik manajemen sekolah. Referensi awal dan utama bagi para guru adalah sekolah alam Ciganjur Jakarta yang disaksikannya lewat televisi. Tidak menunggu lama, mereka lantas melakukan studi lapangan di Ciganjur untuk mengenal lebih dekat konsep dan tujuan pembelajaran yang “beda” dari sekolah kebanyakan.

Dengan dimotori 4 guru eks TKIT, mulai menggodog konsep tersebut untuk disesuaikan dengan kondisi yang ada di Semarang. Dengan langkah mantap maka sekolah alam Ar-Ridho mulai menancapkan kukunya di Jl Bukit Kelapa Sawit I Blok AA Perum Bukit Kencana Jaya. Langkah awal adalah mengumpulkan orangtua wali murid untuk sosialisasi konsep sekolah alam.

“Mungkin belum menjadi hal yang lazim di Semarang, sekolah kok tidak pake seragam, lesehan, dan kelasnya terbuka,” tuturnya tersenyum. Di luar dugaan orang tua wali murid mempercayakan kepada kami pendidikan anak-anak mereka dengan konsep pendidikan yang berbeda, meski ada juga yang kurang sependapat dengan konsep baru itu, tambahnya. “Baru pada tahun kedua target kelas kami terpenuhi dengan jumlah siswa mencapai 24 orang.”

Sebagai sekolah yang “tidak umum” awalnya diknas hanya memandang sebelah mata, namun sekarang setelah ada bukti konkret lulusan yang dihasilkan diknas sudah terbuka bahkan sering melakukan pembinaan langsung ke sekolah itu. “Kami tetap menggunakan kurikulum diknas sebagai acuannya, namun kami sesuaikan dengan konsep sekolah alam,” terangnya. Konsep belajar diluar ruangan akan memacu kreatifitas siswa karena mereka akan melihat langsung kondisi riil yang ada. Dalam setiap tema pembelajaran, tambahnya, kami selalu menggunakan sistem integral sehingga semua mata pelajaran bisa ter-cover, tanpa mengesampingkan kurikulum baku dari diknas. Dengan media spider web siswa akan terkondisikan untuk berfikir logis untuk delapan aspek, karena fungsi media pembelajaran itu adalah untuk memetakan pikiran sesuai dengan mata pelajaran dari suatu tema yang diambil.

Adanya tambahan observasi ke alam menurut wanita asal Tegal itu, tidak akan mengurangi waktu belajar bagi siswa karena di sekolah alam Ar-Ridho memberlakukan jam pelajaran yang lebih lama dari sekolah pada umumnya. “Kelas I dan II waktu belajarnya dari 07.00-12.30, sedangkan kelas III-VI dari 07.00-15.30, itu waktu yang cukup lama untuk menggabungkan kurikulum diknas dengan konsep sekolah alam,” terangnya.

Pengembangan potensi siswa dengan konsep belajar di alam juga diamini oleh Guru Kelas V, Tri Hartini SKM (23), yang mengatakan bahwa usia SD adalah dimana siswa lebih suka bermain daripada belajar. Sehingga konsep belajar sambil bermain di alam akan membangkitkan anak untuk berekspresi, mengeluarkan pendapat dan kemampuan imajinasi spasial anak. “Kemampuan mereka akan langsung terlihat ketika terjun langsung ke alam, atau dengan kata lain kemampuan interpersonal akan mudah diamati oleh guru pembimbingnya,” tutur wanita asal Purworejo itu.

Proses belajar di alam, tidak terbatas mengamati dan menganalisa, melainkan siswa juga turut terjun untuk melakukan dan merasakan secara langsung kegiatan outbond. Dengan outbond siswa akan terpacu kecakapan dirinya baik fisik maupun mental sehingga bisa menumbuhkan kerjasama tim yang solid.

Dengan perbandingan guru dan siswa 2:25, maka proses belajar mengajar akan dirasa efektif karena guru akan lebih bisa memperhatikan kondisi dari setiap siswanya. Hingga kini jumlah guru yang mengajar di sekolah alam Ar-Ridho berjumlah 28 orang dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia.

Dengan biaya pendidikan yang terjangkau, kini jumlah siswanya TK sebanyak 117 orang, SD sebanyak 218 orang, dan SMP sebanyak 40 orang, yang berasal dari berbagai daerah di Semarang. Romadlon kelas V SD, mengaku senang sekolah di SD Ar-Ridho karena bisa belajar sambil bermain, bisa makan pada waktu di kelas, dan duduk santai lesehan. Siswa asal Gedawang itu mengaku sekolah di sekolah alam Ar-Ridho sejak masih TK.\


print this page

February 25, 2008 - Posted by | pendidikan, Uncategorized | , , , , ,

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.