Bisnis
Bisnis Kos-kosan di Semarang:
Antara Deg-degan dan Keuntungan
Liputan Rie
Orang tua Hariyadi (30) dulu memiliki kos-kosan putra di Jl Banyuputih, Tembalang sebanyak 6 kamar. Namun akhirnya ia menyesal dengan keberadaan kos-kosan putra itu. Pasalnya orangtua Hariyadi tidak bisa menunggui kos-kosan tersebut. Telepon koin yang dimaksudkan agar penggunaan telepon dapat dikontrol, ternyata bisa dijebol oleh para penyewa kamar.
Tagihan melambung sampai Rp 3 juta. Orangtua Hariyadipun tidak dapat memaksa para anak kos yang semuanya mahasiswa untuk membayar tagihan telepon. Mereka saling lempar tanggung jawab. Dengan segala cara, akhirnya para anak kos dipaksa mengumpulkan uang untuk membayar tagihan telepon. Namun yang terkumpul hanya Rp 1 juta.
Akhirnya tagihan telepon tidak dapat dibayarkan. Dan pihak Telkompun akhirnya memutuskan sambungan telepon. Kerugian yang lain adalah, banyak fasilitas yang rusak. Misalnya, pintu-pintu jebol, peralatan dapur rusak, dipan hancur, belum lagi corat-coret di dinding dan di pintu.
Akhirnya orangtua Hariyadi trauma untuk memulai lagi bisnis kos-kosan. Dua tahun lamanya, kos-kosan itu kosong. Hariyadi lantas berinisiatif merintis bisnis baru, yakni warnet. ”Tapi kok setelah dihitung-hitung, kok biayanya tinggi banget ya.” Misalnya, biaya renovasi ruangan, pengadaan komputer, jaringan, software , dan lain sebagainya.
Setelah melalui berbagai pertimbangan, ia akhirnya memutuskan untuk kembali meneruskan bisnis orangtuanya. Kali ini, ia mengusung konsep yang berbeda. Hariyadi hanya mau menerima penyewa kos putri. Pasalnya, ia masih trauma dengan kejadian yang tidak mengenakkan di masa lalu. Ia menilai, anak kos putri lebih dapat menjaga kebersihan dan fasilitas yang disediakan. Selain itu, sambung dia, mereka lebih mudah diajak berkomunikasi.
Satu dari 7 kamar, ia sediakan untuk induk semang. Si induk semang, kata dia, bertugas untuk menjaga kos dan mengawasi para penghuninya. Ia tidak ingin tamu-tamu pria masuk ke dalam rumah, apalagi ke kamar. Para tamu pria hanya diizinkan menginjak teras rumah.
Awalnya, ia hanya mendapatkan 2 anak kos dan bertahan selama 2 semester (1 tahun). Pada tahun berikutnya dari 6 kamar yang disediakan sudah penuh oleh 12 anak, 1 kamar masing-masing untuk 2 orang. Dalam perjalanannya bisnis kos-kosan yang dia tekuni berjalan sesuai dengan yang diinginkannya. Dalam hal keuntunganpun sedikit banyak sudah menambah tebal kantongnya.
Hampir sama dengan Hariyadi, Nanang (25) dipercaya menjadi pengelola kos-kosan yang ada di Tirto Agung yang menyewakan 50 kamar. Pria berasal dari Solo itu, menuturkan dari sekian kamar yang disewakan semuanya telah dipenuhi oleh anak kos yang rata-rata mahasiswa Undip dan Poltekkes. Dia mematok harga Rp 130 ribu/bulan/anak, 1 kamar untuk 2 orang. Tapi apabila menginginkan sendiri dalam 1 kamar tarifnya adalah Rp 185 ribu/bulan/anak. Sistem pembayarannya dilakukan di awal per 3 bulan.
Kendala yang sering dihadapi adalah pembayaran tidak tepat waktu, “Meski seharusnya pembayaran dilakukan di awal, namun kita masih memberikan toleransi untuk mengangsur beberapa kali, dan disinilah letak permasalahannya (bayar kos molor-Red).”
Permasalahan lain adalah dalam hal kebersihan. Meskipun sudah dibuat jadwal piket, namun masih belum bisa berjalan semestinya. Fasilitas yang disediakan antara lain lemari, tempat tidur, meja belajar, dan listrik gratis kecuali membawa perangkat elektronik yang besar, misalnya TV atau komputer.
Feni (36) pemilik kos di Jl Tirto Agung Barat V menilai kondisi bangunan dan fasilitas yang ia miliki sudah bagus. Namun sayang, imbuhnya, akses menuju kos-kosan kurang memadahi. ”Jalan rusak, jadi peminat tidak banyak.” Feni menyediakan 7 kamar untuk disewakan. Saat ini sudah 3 kamar yang terisi.
Syafei (55) pemilik kos-kosan putra di daerah Tembalang memiliki 20 kamar yang semuanya sudah terisi. Ia mematok tarif Rp 150 ribu/bulan/kamar. Kendala yang dihadapi adalah masalah pembayaran. Ia mewajibkan pembayaran di muka tiap bulan. Namun seperti pengalaman yang dialami pemilik kos lain, para penyewa tidak sedikit yang molor bayar. Para penghunipun sering berganti-ganti. Jadi, ia tidak bisa menghitung berapa keuntungan bersih yang diterimanya per bulan. .
No comments yet.
Leave a Reply
-
Recent
-
Links
-
Archives
- March 2008 (6)
- February 2008 (16)
- November 2007 (1)
-
Categories
-
RSS
Entries RSS
Comments RSS

