Lifestyle
Sego Kucing :
Favorit Para Jagoan Begadang di Semarang
Liputan Zun dan Rie
Semula Warung sego kucing (angkringan,sego jotos) begitulah sebutan yang akrab ditlinga warga Semarang termasuk Banyumanik Semarang untuk jenis warung makan yang satu ini. Meskipun sederhana, namun tetap punya daya tarik tersendiri bagi mereka yang suka makan malam dengan nuansa cangkrukan. Cara Peyajianyapun terbilang unik, yaitu nasi di bungkus kertas koran dengan lauk yang menggoda selera seperti: oseng bandeng, oseng teri dan lain-lain. Namun semuanya dalam porsi kecil. Tidak sebanyak porsi warung nasi lainnya.
Tapi jangan salah, tempat ini tidaklah sepi dari pelanggan.Seperti yang di katakan Yanto (27) pendatang asal Boyolali, dia senang nongkrong di warung tersebut karena merasa cocok dengan suasananya. “Saya suka kongkow-kongkow dan guyonan dengan orang-orang di warung, apalagi menu makanannya pas dengan lidah orang jawa.”tambahnya sambil menyantap nasi dengan krupuk. Hal yang sama di katakan oleh Agus (27) sopir truk pengangkut pasir. Menurutnya warung nasi kucing menjadi tempat pelepas lelah bagi mereka yang seharian bekerja keras.
Tetap Eksis
Maraknya warung makan di daerah Banyumanik yang menawarkan menu makanan seperti nasi rames, soto babat dan menu lainnya tidak mempengaruhi para penggemar warung tersebut. Eksistensi warung sego kucing tetap tak goyah. Pasalnya, disamping suasana yang khas, harga yang di tawarkan sangat terjangkau. Terutama bagi yang berpenghasilan kecil. Karena harganya sangat terjangkau, hanya berkisar antara Rp 1.200 sampai Rp 1.500 per bugkus. Pelengkap menu berupa gorengannya juga sangat terjangkau. Jadi, tak heran bila warung yang umumnya hanya buka pada malam hari tersebut tetap bisa bertahan. Dan selalu menjadi jujugan pelanggannya.
Apalagi, usaha ini sangat menguntungkan. Seperti yang di alami oleh Mak Ida (65) warga asli Banyumanik yang telah berjualan sego kucing selama 5 tahun. Menurutnya, dalam semalam dia bisa mengantongi pendapatan kotor sampai Rp 250.000 per hari. Berkah dari bisnisa yang sama juga dirasakan oleh Andi (35) asal Boyolali, apalagi kalau ada pesanan, “tiap hari ada juga pesanan, jumlahnya sampai 25 bungkus. “Nah kalau sudah ramai pesanan seperti itu, kulo saged mbetho wangsul lebih dari Rp. 250.000 perharinya,” kata pria yang mempunyai anak satu tersebut ketika ditemui Banyumanik Raya beberapa hari lalu sambil tersenyum.

No comments yet.
Leave a Reply
-
Recent
-
Links
-
Archives
- March 2008 (6)
- February 2008 (16)
- November 2007 (1)
-
Categories
-
RSS
Entries RSS
Comments RSS
